BANGGAI, MERCUSUAR – Sejak mulai beroperasi pada bulan Agustus 2015, kilang LNG Donggi – Senoro di Kecamatan Batui, Kabupaten Banggai, hanya mampu menyerap tenaga kerja lokal sebanyak 16 persen dari tenaga kerja yang ada. Minimnya penyerapan tenaga kerja lokal diperusahaan pengelola gas tersebut tidak lain karena kompetensi yang dimiliki orang lokal, untuk dipekerjakan masih tergolong rendah.

Saat ini ada sekita 300 orang tenaga kerja yang bekerja di LNG Donggi – Senoro, 49 orang di antaranya adalah tenaga kerja lokal. Artinya hanya sekitar 16 persen saja tenaga kerja lokal di LNG Donggi.

“Bagi orang lokal atau masyarakat sekitar perusahaan yang memenuhi kompetensi, akan mendapatkan kesempatan bergabung dan bekerja di LNG Donggi – Senoro. Siapa saja yang akan bergabung wajib mengikuti training selama empat tahun di Jepang atau di Bontang, Kalimantan Timur,” kata Internal and Public Communication Supervisor LNG Donggi – Senoro, Doty Damayanti beberapa waktu lalu di Luwuk.

Ia menjelsakan, LNG Donggi Senoro didirikan pada 28 Desember 2007 sebagai hasil kerja sama antara perusahaan terkemuka yang terdiri atas PT Pertamina (Persero), PT Medco Energi Internasional Tbk, Mitsubishi Corporation, dan koren gas corporation.

Kerjasaman tersebut kata Doty, memberikan peluang bagi pengembangan beberapa cadangan gas alam marjinal di Kabupaten Banggai, Sulawesi Tengah, yang menunggu lebih dari 30 tahun untuk dikembang melalui skema hilir.

Menurutnya, LNG Donggi – Senoro yang berada di Desa Uso Kecamatan Batui, Banggai, adalah kilang LNG keempat di Indonesia. Mulai dibangun tahun 2011, sepanjang masa konstruksi, kilang menyerap ribuan tenaga kerja lokal dan menciptakan berbagai peluang usaha bagi pelaku bisnis setempat.

Doty mengakui jika penyerapan tenaga kerja lokal sejak LNG Donggi – Senoro mulai beroperasi sangat minim. Hal ini disebabkan karena tenaga kerja yang bekerja saat masa oprasi adalah orang – orang yang berkompetensi, memiliki pengalaman kerja dibidang migas selama 10 tahun dan bersetifikasi nasional.

Namun pada masa kontruksi ada sekitar 4000 tenaga kerja lokal yang bekerja di LNG Donggi – Senoro dan setelah masa produksi sekitar 70 persen karyawan lokal tersebut telah bekerja di perusahaan lain di luar Donggi.

Menurutnya, hingga saat ini pihak perusahaan tetap berkomitmen memenuhi kewajibannya untuk menjadi perusahaan LNG yang bertangungjawab secara sosial dan lingkungan.

Kesempatan ke jenjang pendidikan tinggi diberikan melalui program beasiswa utusan daerah bekerja sama dengan Institut Pertanian Bogor (ITB). Melalui program tersebut lanjut Doty, lima lulusan dari SMA di kecamatan Kintom dan Batui bias menempuh pendidikan di ITB. Ke lima anak daerah itu menurut Doty, mengambil studi bidang manajemen sumber daya lahan, proteksi tanaman, manajemen sumber daya perairan, teknik mesin dan biositem ilmu dan teknologi kehutanan.

Dengan bekal keilmuan dibidang pertanian dan kelautan, mereka diharapkan bisa ikut mengembangkan potensi pertanian, perkebunan dan kelautan di Banggai.

“Mengapa beasiswa yang diberikan bukan beasiswa pendidikan pertambangan tapi justru pertanian dan perikanan mengingat studi yang diambil jangka panjgang dan berkelanjutan untuk peningkatan perekonomian daerah, sementara pertambangan yang ada di lokasi kilang Donggi hanya mampu bertahan selama kurang lebih 19 tahu saja atau tidak berkelanjutan dan tidak memberikan manfaat jangka panjang,ujarnya.TIN

Kartini Nainggolan

View all posts